KEBIJAKAN HARGA
BAB I
PENDAHULUAN
I.
LATAR BELAKANG
Secara teoritis, tidak ada perbedaan
signifikan antara perekonomian klasik dengan modern. Teori harga secara
mendasar sama, yakni bahwa harga wajar atau harga keseimbangan diperoleh dari
interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran (supply) dalam suatu
persaingan sempurna, hanya saja dalam perekonomian modern teori dasar ini
berkembang menjadi kompleks karena adanya diversifikasi pelaku pasar, produk,
mekanisme perdagangan, instrumen, maupun perilakunya,yang mengakibatkan
terjadinya distorsi pasar
Secara tradisional, harga berperan
sebagai penentu utama dari pilihan pembeli. Walaupun, faktor-faktor non harga
telah menjadi semakin penting dalam perilaku pembeli selama beberapa dasawarsa
ini, harga masih merupakan salah satu unsur terpenting yang menentukan pangsa
pasar dan profitabilitas perusahaan.
Dalam
dunia bisnis harga mempunyai banyak nama, sebagai contoh dalam dunia perbankan
disebut bunga, atau dalam bisnis, akuntansi, periklanan, konsultan disebut fee.
Sedangkan dalam dunia asuransi dikenal yang namanya premi. Terlepas dari
macam-macam nama, menurut Dolan and Simon,
harga merupakan sejumlah uang atau jasa atau barang yang ditukar pembeli untuk
beraneka produk atau jasa yang disediakan penjual, sedangkan menurut Monroe (1990) menyatakan bahwa harga
merupakan pengorbanan ekonomis yang dilakukan pelanggan untuk memperoleh produk
atau jasa. Selain itu harga adalah salah satu faktor penting bagi konsumen
dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau tidak (Engel, lackwell & Miniard dan
Kotler,1996). Dapat disimpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwa harga
adalah sejumlah uang yang ditentukan perusahaan sebagai imbalan barang atau
jasa yang diperdagangkan dan sesuatu yang lain yang diadakan perusahaan untuk
memuaskan keinginan konsumen dan merupakan salah satu faktor penting dalam
pengambilan keputusan pembelian.
Harga
merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan,
elemen-elemen lainnya menimbulkan biaya. Harga juga merupakan salah satu elemen
bauran pemasaran yang paling fleksibel : Harga dapat berubah dengan cepat,
tidak seperti ciri khas (feature) produk dan perjanjian distribusi. Pada
saat yang sama, penetapan dan persaingan harga juga merupakan masalah nomor
satu yang dihadapi perusahaan.
Perusahaan
menangani penetapan harga dengan berbagai cara. Pada perusahaan kecil, harga
biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak bukan dari bagian pemasaran atau
penjualan. Pada perusahaan besar, penetapan harga biasanya ditangani oleh
manajer divisi dan lini produk. Dalam berbagai industri dimana penetapan harga
merupakan faktor utama, perusahaan tersebut biasanya membentuk departemen
penetapan harga untuk menetapkan harga atau membantu departemen lain menetapkan
harga yang tepat. Departemen itu melapor kepada departemen pemasaran, keuangan,
atau manajemen puncak. Pihak lain yang mempengaruhi penetapan harga antara lain
manajer penjualan, manajer produksi, manajer kauangan dan akuntan.
II.
Rumusan
Masalah
Agar permasalahan tidak meluas serta dapat lebih terarah pada pokok
permasalahan, maka dapat dirumuskan permasalahan berdasarkan latar belakang
yang dikemukakan di atas adalah sebagai berikut :
- Bagaimana Konsep dan Peranan Harga?
- Mengetahui Tujuan Penetapan Harga
- Mengetahui Faktor yg perlu dipertimbangkan dalam penetapan harga
- Penjelasan Metode Penetapan Harga
- Mengetahui Penyesuaian Terhadap Harga
- Bagaimana Strategi Penetapan Harga
- Bagaimana Strategi Penetapan Harga Produk Baru
- Bagaimana Strategi Penetapan harga Produk yg sudah Mapan
- Bagaimana Strategi Fleksibilitas Harga
- Bagaimana Strategi Penetapan Harga Lini Produk
- Bagaimana Strategi Leasing
III.
TUJUAN
a. Pengertian Harga dan Kebijakan Harga
b. Prosedur Penetapan
Harga
c. Tujuan
Penetapan Harga
d. Konsep dan Peranan Harga
e. Macam-macam Kebijakan
Harga
f. Jenis-jenis Potongan
Harga
g.
Faktor yg perlu dipertimbangkan dalam Penetapan
Harga
h.
Metode Penetapan Harga
i.
Penyesuaian terhadap Harga
j.
Strategi Penetapan Harga
k.
Strategi Penetapan Harga Produk Baru
l.
Strategi Penetapan Harga Produk yang sudah Mapan
m.
Strategi Fleksibilitas Harga
n.
Strategi Penetapan Harga Lini Produk
o.
Strategi Leasing
IV.
MANFAAT
1.
Mengetahui pengertian kebijakan harga
2.
Mengetahui prosedur penetapan harga
3.
Mengetahui tujuan kebijakan harga
4.
Mengetahui macam-macam kebijakan harga
5.
Mengetahui jenis-jenis potongan harga
6.
Konsep
dan Peranan Harga
- Tujuan Penetapan Harga
- Faktor yg perlu dipertimbangkan dalam Penetapan Harga
- Penyesuaian terhadap Harga
- Strategi Penetapan Harga
- Strategi Penetapan harga Produk yg sudah Mapan
- Strategi Fleksibilitas Harga
- Strategi Penetapan Harga Lini Produk
- Strategi Leasing
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Harga
Menurut
Stanton, (1984) Harga adalah Price is valueexpressed in terms
of dollars and cens, or any other monetary medium of exchange. yang
kurang lebih memiliki arti harga adalah nilai yang dinyatakan dalam
dolar dan sen atau medium moneter lainnya sebagai alat tukar.
Menurut
Basu Swastha (1986: 147) Harga diartikan sebagai Jumlah uang (kemungkinan
ditambah barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari
barang beserta pelayanannya.
Menurut menurut Alex S Nitisemito (1991:55) Harga
diartikan sebagai nilai suatu barang atau jasa yang
diukur dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut seseorang atau
perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimiliki kepada pihak
lain.
Harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya
(termasuk barang dan jasa) yang ditukarkan agar memperoleh hak
kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa, Tjiptono (2001 : 151). Dan
harga merupakan unsur satu–satunya dari unsur bauran pemasaran yang
memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan di banding unsur bauran
pemasaran yang lainnya (produk, promosi dan distribusi).
B.
PENGERTIAN KEBIJAKAN atau PENETAPAN HARGA
Banyak definisi yang dibuat oleh
para ahli untuk menjelaskan arti kebijakan. Thomas
Dye dalam buku Zainal Abidin Said
(2004) http://massofa.wordpress.com/2008/11/13/kajian-ilmu-kebijakan/ menyebutkan kebijakan sebagai
pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Definisi ini
dibuatnya dengan menghubungkan pada beberapa definisi lain dari David Easton, Lasswell dan Kaplan, dan Carl Friedrich. Easton
menyebutkan kebijakan pemerintah sebagai “kekuasaan mengalokasi nilai-nilai
untuk masyarakat secara keseluruhan.” Ini mengandung konotasi tentang
kewenangan pemerintah yang meliputi keseluruhan kehidupan masyarakat. Tidak ada
suatu organisasi lain yang wewenangnya dapat mencakup seluruh masyarakat
kecuali pemerintah. Sementara Lasswell
dan Kaplan yang melihat kebijakan
sebagai sarana untuk mencapai tujuan, menyebutkan kebijakan sebagai program
yang diproyeksikan berkenaan dengan tujuan, nilai dan praktek. Carl Friedrich dalam Zainal Abidin Said
(2004) mengatakan bahwa yang paling pokok bagi suatu kebijakan adalah
adanya tujuan (goal), sasaran (objektive) atau kehendak (purpose).
Menurut Moekijat (2003:441)
mengenai: “Kebijakan harga adalah suatu keputusan-keputusan mengenai
harga-harga yang akan diikuti untuk suatu jangka tertentu”. Dari uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa kebijakan harga yang ditetapkan oleh perusahaan,
biasanya kebijakan harga tersebut berlaku untuk sementara waktu saja selama
masa menguntungkan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus mengikuti
perkembangan harga dan situasi pasar. Unsur harga tersebut dalam waktu tertentu
dirubah atau tidak. Apabila selama batas waktu tertentu keadaan menguntungkan,
maka kebijakan harga tersebut ditinjau kembali apabila situasi dan kondisi
perusahaan mengalami perubahan, sehingga tidak mungkin lagi untuk dipertahankan
agar produsen maupun konsumen tidak saling dirugikan.
C.
PROSEDUR
PENETAPAN HARGA
Menurut Kotler dalam bukunya
berjudul Manajemen Pemasaran (2002:56). Dalam Menyusun kebijakan
penetapan harga, perusahaan mengikuti prosedur enam tahap penetapan harga
yaitu:
- Memilih Tujuan Penetapan Harga
Perusahaan
harus memutuskan dimana ia ingin memposisikan tawaran pasarnya. Semakin jelas
tujuan perusahaan, semakin mudah untuk menetapkan harga. Perusahaan dapat
mengejar salah satu dari lima tujuan utama melalui penetapan harga yakni kelangsungan
hidup, laba sekarang maksimum, pangsa pasaran maksimum, skimming pasar
maksimum, atau kepemimpinan mutu produk.
Perusahaan
dapat mengejar kelangsungan hidup sebagai tujuan utama jika mengalami kelebihan
kapasitas, persaingan yang ketat atau keinginan konsumen yang berubah-ubah.
Pada perusahaan yang ingin memaksimalkan pangsa pasar, mereka yakin bahwa
volume penjualan yang tinggi akan menghasilkan biaya per unit yang lebih rendah
dan laba jangka panjang yang lebih tinggi.
- Penentuan Permintaan
Tiap
harga yang dikenakan perusahaan akan menghasilkan level permintaan berbeda-beda
dan karena itu akan memberikan pengaruh yang berbeda pula terhadap tujuan
pemasarannya. Dalam keadaan normal, permintaan dan harga berhubungan terbalik :
semakin tinggi harga semakin rendah permintaan. Dalam memperkirakan permintaan,
perlu dipahami factor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga.
Nagle telah mengidentifikasi
sembilan faktor yaitu: (1) Pengaruh
nilai unik : pembeli kurang peka terhadap harga jika produk tersebut lebih
bersifat unik. (2) Pengaruh kesadaran
atas produk pengganti, (3) Pengaruh
perbandingan mutu harga yang sulit, (4)
pengaruh pengeluaran total pendapatan konsumen, (5) pengaruh manfaat akhir, (6)
pengaruh biaya bersama, (7) pengaruh
investasi tertanam, (8) pengaruh
mutu-harga, (9) pengaruh persediaan.
Perusahaan
umumnya juga berusaha mengukur kurva permintaan mereka. Dalam melakukannya
mereka dapat menggunakan beberapa metode. Pertama, melibatkan analisis secara
statistik atas data harga masa lalu, jumlah yang terjual, dan faktor lainnya.
Pendekatan kedua adalah melakukan eksperimen harga.
- Memperkirakan Biaya
Biaya
perusahaan ada dua macam yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap
adalah biaya-biaya yang tidak dipengaruhi oleh produksi atau penjualan. Contoh
biaya tetap adalah : gaji karyawan, biaya sewa, dan lainnya berapapun output
produksi perusahaan.
Sedangkan
Biaya variabel adalah biaya yang berubah menurut level produksi. Untuk dapat
menetapkan harga dengan tepat, manajemen perlu mengetahui bagaimana biayanya
bervariasi bila level produksinya berubah.
Perusahaan
Jepang sering menggunakan metode yang disebut penetepan biaya berdasar sasaran (target
costing) perusahaan menggunakan riset pasar untuk menetapkan fungsi-fungsi
yang diinginkan dari suatu produk baru. Perusahaan kemudian menentukan harga
jual produk tersebut dengan memperhatikan daya tarik produk dan harga pesaing.
Perusahaan mengurangi margin laba yang dinginkan dari harga itu, sehingga
diperoleh biaya sasaran yang harus dicapai.
- Menganalisis Biaya, Harga, dan Tawaran Pesaing
Dalam
rentang kemungkinan harga yang ditentukan oleh permintaan pasar dan biaya
perusahaan. Perusahaan harus memperhitungkan biaya pesaing, harga pesaing dan
kemungkinan reaksi harga oleh pesaing. Jika tawaran perusahaan serupa dengan
tawaran pesaing utamanya, maka perusahaan harus menetapkan harga yang dekat
dengan harga pesaing atau perusahaan tersebut akan kehilangan penjualan. Jika
tawaran perusahaan lebih rendah mutunya, perusahaan tidak dapat menetapkan harga
yang lebih tinggi dari pada pesaing. Jika penawaran perusahaan lebih tinggi
mutunya, perusahaan dapat menetapkan harga yang lebih tinggi dari pada pesaing.
Akan tetapi perusahaan harus menyadari bahwa pesaing dapat mengubah harganya
sebagai tanggapan atas harga perusahaan.
- Memilih Metode Penetapan Harga
Dengan
adanya tiga kurva permintaan pelanggan, fungsi biaya, dan harga pesaing,
perusahaan kini harus memilih suatu harga. Harga pesaing dan dan harga barang
pengganti menjadi titik orientasi yang perlu dipertimbangkan perusahaan dalam
menetapkan harga.
Ada
enam metode penetapan harga yaitu :
a. Penetapan harga mark up
Metode
penetapan harga yang paling dasar adalah dengan menambah markup standar ke
biaya produk. Misalkan perusahaan konstruksi memberikan harga tender dengan
memperkirakan biaya total proyek dan menambahkan markup standar sebagai laba.
Metode ini terkenal karena penjual dapat menentukan biaya dengan lebih mudah
dibandingkan memperkirakan permintaan. Jika semua perusahaan dalam industri yang
sama menerapkan metode yang sama pula maka harga akan cenderung serupa.
b. Penetapan harga berdasarkan sasaran pengembalian
Dalam
metode ini, perusahaan menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat
pengembalian atas investasi (ROI) yang diinginkan. Contoh perusahaan yang
menerapkan metode ini adalah General Motors yang menetapkan harga
mobil-mobilnya untuk mencapai ROI 15 persen.
c.
Penetapan harga berdasarkan Nilai
yang di persepsikan
Saat
ini banyak perusahaan yang mendasarkan harga produk mereka pad nilai yang
dipersepsikan (perceived value). Perusahaan melihat persepsi nilai
pembeli, bukan biaya penjual, sebagai kunci untuk penetapan harga. Perusahaan
menggunakan berbagai variabel non harga dalam bauran pemasaran untuk membentuk
nilai yang dipersepsikan dalam pikiran pembeli.
Kunci untuk penetapan harga
berdasarkan nilaiyang dipersepsikan secara akurat menentukan persepsi pasar
atas nilai tawaran. Penjual yang memandang nilai tawarannya terlalu tinggi akan
menetapkan harga yang terlalu tinggi bagi produknya. Penjual dengan pandangan
terlau rendah akan mengenakan harga yang lebih rendah dari pada harga yang
dapat ditetapkan. Riset pasar dibutuhkan untuk membentuk persepsi pasar atas
nilai sebagai panduan dalam penetapan harga yang efektif.
d. Penetapan Harga Nilai
Metode
penetapan harga nilai (value pricing) adalah menetapkan harga yang cukup
rendah untuk tawaran yang bermutu tinggi. Ini menyatakan bahwa harga harus
menggambarkan tawaran yang lebih tinggi bagi konsumen.
e.
Penetapan harga sesuai harga
berlaku
Dalam
penetapan harga sesuai harga berlaku (going-rate pricing), perusahaan
mendasarkan harganya terutama pada harga pesaing. Perusahaan dapat mengenakan
harga yang sama, lebih tinggi, atau lebih rendah dari pada pesaing utamanya.
Dalam industri yang bersifat oligopoli yang menjual komoditas seperti baja,
kertas atau pupuk, perusahaan umumnya menetapkan harga yang sama.
f.
Penetapan harga tender tertutup
Penetapan
harga yang kompetitif umumnya digunakan jika perusahaan mengikuti tender
tertutup atas suatu proyek. Perusahaan menentukan harga berdasarkan
perkiraannya tentang bagaimana pesaing akan menetapkan harga dan bukan
berdasarkan hubungan yang kaku dengan biaya atau permintaan perusahaan.
Memilih
Harga Akhir
Metode-
metode penetapan harga mempersempit rentang harga yang harus dipilih perusahaan
untuk menentukan harga akhir. Dalam memilih harga akhir, perusahaan harus
mempertimbangkan berbagai faktor tanbahan, termasuk penetapan harga psikologis,
pengaruh elemen bauran pemasaran lain terhadap harga, kebijakan penetapan harga
perusahaan, dan dampak dari harga terhadap pihak-pihak lain.
Mengadaptasi
harga
Perusahaan
biasanya tidak menetapkan harga tunggal melainkan struktur penetapan harga yang
mencerminkan perbedaan berdasarkan permintaan dan biaya secara geografis,
kebutuhan segmen pasar, waktu pembelian, level pemesanan, dan faktor lainnya.
Terdapat beberapa strategi adaptasi
harga : (1) penetapan harga geografis, (2) diskon dan potongan harga; (3)
penetapan harga promosi; (4) penetapan harga diskriminasi, yaitu perusahaan
menjual suatu produk pada harga yang berbeda untuk segmen pasar yang berbeda
berdasarkan segmen pelanggan, bentuk produk, citra, lokasi atau waktu; (5)
penetapan harga bauran produk, yang mencakup berbagia penetapan harga untuk
lini produk, keistimewaan pilihan, produk pelengkap, produk sampingan, dan
bundel produk.
Ada beberapa alternatif selain
menaikkan harga, yang meliputi mengurangi jumlah produk dari pada menaikkan
harga, mengganti dengan bahan atau dengan unsur yang lebih murah, serta
mengurangi atau menghilangkan keistimewaan produk.
Perusahaan
yang menghadapi perubahan harga yang dilakukan pesaing harus berusaha untuk
memahami tujuan pesaing dan kemungkinan lamanya perubahan tersebut. Strategi
perusahaan sering bergantung pada apakah perusahaan tersebut memproduksi produk
yang homogen atau tidak homogen. Pemimpin pasar yang diserang oleh pesaing yang
berharga murah dapat memilih untuk mempertahankan harga, menaikkan mutu yang
dipersepsikan atas produk, mengurangi harga, menaikkan harga dan meningkatkan
mutu, atau meluncurkan lini produk petarung yang berharga murah.
Ada
beberapa metode yang dapat digunakan sebagai rancangan dan variasi, dalam
penetapan harga menurut Marras (1999: 181-185), harga dapat ditentukan atau
dihitung :
1) Harga didasarkan pada biaya total
ditambah laba yang diinginkan (cost plus pricing method).
2) Harga yang berdasarkan pada
keseimbangan antara permintaan dan suplai.
3) Penetapan harga pasar yang ditetapkan
atas dasar kekuatan pasar.
4) Harga yang berdasarkan keseimbangan
antara suplai dan permintaan.
5) Penetapan harga atas dasar kekuatan
pasar
D.
TUJUAN KEBIJAKAN HARGA
Pada umumnya perusahaan dalam
mengadakan kebijakan harga mempunyai beberapa tujuan. Tujuan kebijakan harga
tersebut dikemukakan sebagai berikut Menurut
Lamarto dalam bukunya berjudul Strategi Pemasaran (2006:314),yaitu:
- Berorientasi pada laba.
1) Mencapai target laba investasi atau
laba penjualan bersih.
Perusahaan menetapkan harga
produknya atau jasa yang diberikan atas dasar sasaran pencapaian prosentase
tertentu untuk pengembalian investasi atau laba penjualan bersih. Sasaran
seperti ini menjadi kacau baik bagi perusahaan maupun pialangnya.
2) Memaksimalkan laba.
Sasaran penetapan harga atau dasar
menghasilkan uang sebanyak-banyaknya mungkin merupakan sasaran yang paling
banyak dianut oleh perusahaan. Dalam teori ekonomi atau praktek bisnis, tidak
ada yang salah dengan sasaran seperti ini. Secara teoritis apabila laba menjadi
terlalu besar karena penawaran lebih kecil dibandingkan permintaan, modal baru
akan tertanam dalam bidang usaha ini. Dengan sendirinya hal ini akan mengurangi
laba sampai setingkat normal.
b. Berorientasi pada penjualan.
1) Meningkatkan volume penjualan.
Sasaran penetapan harga biasanya
dinyatakan dalam prosentase kenaikan volume penjualan selama periode tertentu.
Katakanlah satu tahun atau tiga tahun. Para pengecer mendayagunakan sasaran
semacam ini. Sewaktu mereka berusaha meningkatkan penjualan tahun lalu dengan
prosentase tertentu. Namun untuk meningkatkan volume penjualan mungkin bisa
atau tidak bisa taat dengan konsep pemasaran yang dianut volume penjualan yang
menguntungkan. Di satu pihak, sasaran perusahaan bisa meningkatkan volume
penjualan tetapi dengan tetap mempertahankan tingkat labanya. Disegi lain,
manajemen bisa memutuskan dan meningkatkan volume penjualannnya melalui
strategi penetapan harga yang agresif dengan kerugian. Dalam hal ini manajemen
bisa memutuskan untuk pendek dengan perhitungan bahwa melalui peningkatan
volume penjualan dapat menancapkan kakinya dalam pasar.
2) Mempertahankan atau meningkatkan
pangsa pasar.
Perusahaan yang mempunyai sasaran
penetapan harga tipe ini memutuskan perhatian pada upaya mempertahankan atau
meningkatkan pangsa pasar. Satu sektor yang membuat sasaran ini tercapai adalah
perusahaan biasanya dapat menentukan pangsa pasar apa yang diinginkan. Dalam
beberapa hal, pangsa pasar merupakan indikator kondisi perusahaan yang lebih
baik dibandingkan dengan target laba investasi artinya, sasaran penetapan
harganya yang lebih baik. Hal ini bisa terjadi terutama pada waktu pasar total
sedang berkembang dan perusahaan bisa memperoleh laba yang bisa diharapkan.
Akan tetapi jika manajemen tidak mengetahui bahwa pasar sedang berkembang,
akibatnya pangsa pasar perusahaan bisa mengalami kemunduran.
- Berorientasi pada status quo.
1) Menstabilkan harga.
Stabilitas harga sering menjadi sasaran industri-industri
yang mempunyai pemimpin harga ( price leader )
2) Menangkal persaingan.
Banyak perusahaan, tidak tergantung dari besar kecilnya,
secara sadar memberi harga produknya untuk memenangkan persaingan. Meskipun
perusahaan sudah besar, hanya mempunyai peranan yang kecil dalam menentukan
harga pasar.
Dari pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan
bahwa dengan ditetapkannya kebijakan harga, maka tujuan yang hendak dicapai
adalah:
a. Mencapai target laba atau laba
tertentu.
b. Memaksimalkan laba.
c. Meningkatkan penjualan.
d. Mempertahankan dan meningkatkan
pangsa pasar.
e. Mentabilkan harga.
E.
Konsep
dan Peranan Harga
“Pada tingkat harga, bila manfaat
yang dirasakan konsumen meningkat, maka nilainya akan meningkat pula, Demikian
pula pada tingkat harga tertentu, nilai suatu barang atau jasa akan meningkat
seiring dengan meningkatnya manfaat yang dirasakan”
Asumsi :
•
Harga bisa diungkapkan dengan
berbagai istilah : misalnya Iuran, tarif, Sewa, Bunga, Komisi,
Upah, Gaji, Honorarium dsb.
•
Harga merupakan komponen yang
berpengaruh langsung pada laba perusahaan :
Laba = Pendapatan
Total – Biaya Total ( Harga per unit x Kuantitas yg terjual) – ( Biaya Tetap)
Disudut pandang konsumen harga seringkali digunakan sebagai
indikator Nilai, bilamana harga tsb. dihubungkan dengan manfaat yang
dirasakan atas suatu barang atau jasa.
Nilai (value) di-definisikan sebagai
rasio antara manfaat yg dirasakan terakhir. Harga dapat dirumuskan :
Manfaat YangDirasakan
![]()
Harga
|
PERANAN HARGA
Ada
dua Peranan Utama Dalam Proses Pengambilan
Keputusan
Para Pembeli
1.
Peranan Alokasi Dari Harga :
•
Fungsi harga dalam membatu para
pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat atau utilitas tertinggi yg
diharapkan berdasarkan daya beli
•
Dapat membantu pembeli untuk memutuskan
cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang dan jasa
•
Dapat membandingkan harga dari
berbagai alternatif yang tersedia
•
Memutuskan alokasi dana yang
dikehendaki
2. Peranan Informasi dari Harga :
–
Fungsi harga dalam mendidik konsumen
mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas
–
Membantu pembeli dalam situasi
dimana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor Produk/ manfaat secara abjektif
Sasaran
Penetapan Harga
1. Berorientasi pada Laba
-
Untuk mencapai target laba investasi
laba penjualan bersih
- Untuk memaksimalkan laba
2.
Berorientasi Pada Penjualan;
-
Untuk meningkatkan Penjualan
-
Untuk mempertahankan atau
meningkatkan bagian pasar dan penjualan
3. Berorientasi Pada Status Quo, yaitu
;
- Untuk menstabilkan laba
- Untuk menangkal Persaingan
ü
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Penetapan Harga :
- Permintaan Produk
- Reaksi Pesaing
- Bauran Pemasaran
- Target dan Bagian saham pasar
- Biaya untuk memproduksi
F.
MACAM-MACAM
KEBIJAKAN HARGA
Berikut ini merupakan penjelasan
dari macam-macam kebijakan harga harga tersebut di atas:
a. Potongan
dan kelonggaran (discount and allowance)
Potongan dan kelonggaran adalah
hasil pengurangan dari harga dasar atau harga tercatat atau harga terdaftar
(list prices)
b. Strategi
penetapan-penetapan harga geografis
Dalam menetapkan harga produk,
seorang penjual harus mempertimbangkan pula biaya angkutan dari pabrik sampai
ke pembeli. Faktor ini menjadi bertambah penting, karena biaya angkutan
sekarang dimasukkan ke dalam biaya variabel total. Kebijakan harga penetapan
harga bisa mencakup tiga variasi: pembeli menanggung seluruh biaya angkutan,
atau penjual menanggung seluruh biaya angkutan atau dapat juga ditanggung kedua
belah pihak.
Strategi apa yang dapat dipilih bisa sangat mempengaruhi:
Strategi apa yang dapat dipilih bisa sangat mempengaruhi:
1) Batas tempat fasilitas produksi
2) Lokasi tempat produksi
3) Sumber bahan baku produksi
4) Daya saing dalam berbagai pasar
c. Strategi
harga tunggal dan strategi
harga variable
Sebelum menentukan strategi
penetapan harga apa yang dianut oleh perusahaan, manajemen perlu terlebih
dahulu mengkaji dengan cermat dua pilihan, strategi tunggal atau strategi harga
variabel.
Menganut strategi yang satu bukan berarti membuang jauh-jauh strategi yang lain, meskipun biasanya penentuan strategi apa yang akan didayagunakan bersifat mengikat. Dengan strategi harga tunggal, perusahaan menetapkan harga sama atau harga ke seluruh pelanggan yang membeli produk dalam kualitas sama. Di bawah strategi harga variabel, perusahaan akan dapat menjual produk dengan harga yang berlainan meskipun transaksi dilakukan dalam kuantitas sama dengan pembeli yang sama. Kebijakan harga tunggal bisa membina kepercayaan konsumen kepada penjual tingkat eceran, grosir atau pabrik. Pembeli yang kurang pandai menawar tidak perlu kuatir akan tertipu. Kebijakan harga variabel juga mempunyai kelebihan, misalnya penjual bisa membeli konsensi harga kepada pembeli agar penjual bisa memberi harga khusus pada pembeli yang mempunyai potensi menjadi pelanggan besar.
Menganut strategi yang satu bukan berarti membuang jauh-jauh strategi yang lain, meskipun biasanya penentuan strategi apa yang akan didayagunakan bersifat mengikat. Dengan strategi harga tunggal, perusahaan menetapkan harga sama atau harga ke seluruh pelanggan yang membeli produk dalam kualitas sama. Di bawah strategi harga variabel, perusahaan akan dapat menjual produk dengan harga yang berlainan meskipun transaksi dilakukan dalam kuantitas sama dengan pembeli yang sama. Kebijakan harga tunggal bisa membina kepercayaan konsumen kepada penjual tingkat eceran, grosir atau pabrik. Pembeli yang kurang pandai menawar tidak perlu kuatir akan tertipu. Kebijakan harga variabel juga mempunyai kelebihan, misalnya penjual bisa membeli konsensi harga kepada pembeli agar penjual bisa memberi harga khusus pada pembeli yang mempunyai potensi menjadi pelanggan besar.
d. Penetapan
harga unit (unit pricing)
Penetapan harga unit adalah strategi
pelaporan informasi tentang harga eceran yang sampai sekarang tetap
didayagunakan secara luas oleh rangkaian pasar raya atau super market. Walaupun
demikian, metode penetapan harga tipe ini bisa diadaptasikan ke berbagai tipe
toko dan produk lainnya. Sebagai strategi ia merupakan reaksi bisnis terhadap
proses-proses konsumen mengenai pemakaian ukuran kemasan.
Praktek-praktek yang ada membuat konsumen sukar membandingkan harga produk-produk serupa. Latar belakang pemakaian strategi ini didasarkan atas harapan bahwa konsumen diharapkan makin sadar dan memahami strategi ini. Biaya yang dikeluarkan untuk mempraktekkan strategi ini diimbangi oleh manfaat yang dapat dipetik dari masyarakat.
Praktek-praktek yang ada membuat konsumen sukar membandingkan harga produk-produk serupa. Latar belakang pemakaian strategi ini didasarkan atas harapan bahwa konsumen diharapkan makin sadar dan memahami strategi ini. Biaya yang dikeluarkan untuk mempraktekkan strategi ini diimbangi oleh manfaat yang dapat dipetik dari masyarakat.
e. Strategi
lini harga (price lining)
Penetapan lini harga banyak
didayagunakan oleh para pengecer pakaian jadi. Pada intinya strategi ini
menyeleksi harga yang terbatas jumlahnya yang akan dicapai untuk setiap lini
barang dagangan, misalnya sebuah toko sepatu menjual lini produk yang terdiri
dari beberapa model sepatu seharga Rp. 15.000,- sepasang, lini model lain
seharga Rp. 20.000,- dan lini termahal dengan harga Rp. 30.000,- sepasang. Bagi
konsumen, keuntungan utama dari penetapan lini harga adalah penyederhanaan
keputusan beli. Dari sudut pengecer strategi ini juga menguntungkan karena
membantu perencanaan dan membelanjakan di toko. Kendala yang mungkin dihadapi
oleh strategi lini, perubahan lini harga yang harus selalu dilakukan setiap
kali biaya naik sehingga pengecer akan bingung. Keseringan merubah lini harga
akan merusak citra toko. Apabila situasi harga tetap, margin laba ditekan
serendah mungkin, pengecer bisa selalu mencari harga produk yang tidak terlalu
tinggi. Pihak produsen juga bisa menolong para pengecer melalui penyederhanaan
kemasan atau kualitas produk (berarti biaya lebih murah) pengecer bisa
mempertahankan harga pada tingkat yang tetap.
f. Sarana
pengendalian harga eceran
Beberapa pabrik ingin mengendalikan
harga eceran produknya, ada yang mencantumkan pedoman harga-harga eceran yang
diajukan oleh produknya, ada juga yang secara tegas mencantumkan harga eceran
tinggi, mereka yang melanggar bisa dicabut hak menjual produknya. Kebijakan
yang memperbolehkan pengecer menambah atau mengurangi dengan potongan harga.
Kebijakan yang kedua harga bisa jalan untuk produk yang laku.
g. Penetapan
harga pelopor dan undang-undang
Gagasan yang mendasari adalah pelanggan
ke toko membeli produk dengan harga pelopor dan kemudian tertarik untuk membeli
produk lain dengan harga biasa. Hasil diharapkan bisa berupa laba total dan
volume penjualan total. Tujuan umum dari undang-undang ini baik, yaitu mencegah
praktek penurunan harga seenaknya sendiri. Namun demikian undang-undang ini
masih mengijinkan praktek banting harga sebagai strategi promosi dan strategi
harga. Lagi pula tujuan daripada bisnis adalah menghasilkan laba dari operasi
total tidak perlu dari setiap penjualan masing-masing produk.
h. Penetapan
harga psikologis
Ditingkat penjualan eceran, strategi
bagi penetapan harga psikologis adalah memberi harga dengan gasal seperti
misalnya permen coklat seharga Rp. 5.995,- dan buku seharga Rp. 6.000,-.
Beberapa studi lapangan kurang mendorong keyakinan di atas, harga gasal kurang
disenangi toko-toko yang eksekutif.
i.
Penetapan harga dimasa inflasi
Infalsi yang melanda ekonomi
sebagian besar melanda negara di dunia selama beberapa tahun ini belum terlihat
tanda-tanda akan mereda. Bagi eksekutif pemasaran terutama dalam penetapan
harga inflasi memaksa mereka untuk mengembangkan strategi penetapan harga yang
kreatif dan inovatif.
j.
Persaingan harga lawan persaingan
non harga
Di dalam upaya mengembangkan program
pemasaran manajemen mempunyai pilihan antara penekanan persaingan harga atau
persaingan non harga. Pilihan dapat mempengaruhi bagian-bagian lain dari sistem
pemasaran perusahaan. Dengan harga yang rendah biasanya pelayanan yang
ditawarkan juga menjadi berkurang. Dahulu rangkaian toko dan pusat-pusat
penjualan dengan potongan harga selalu bersaing dengan cara seperti ini. Dari
sebuah perusahaan juga mendayagunakan harga dalam persaingan melalui:
1) Perubahan harga
2) Reaksi terhadap perubahan harga yang dilakukan oleh para pesaingnya.
1) Perubahan harga
2) Reaksi terhadap perubahan harga yang dilakukan oleh para pesaingnya.
Persaingan
non harga makin banyak digunakan dalam program pemasaran paling tidak ingin
menentukan jalannya sendiri. Dalam persaingan non harga, dasar pandangan
seperti ini bisa terjadi karena posisi perubahan sebagai penjual tidak terlalu
berubah, meskipun pesaing mulai banting harga. Juga kesetiaan pembeli terhadap
produk akan tetap terjaga, karena harga bukan satu-satunya ciri pembeda
perusahaan. Dengan strategi persaingan harga pembeli akan setia pada perusahaan
selama perusahaan dapat menawarkan produk dengan harga rendah.
Dua
metode utama persaingan non harga adalah promosi dan pembeda produk. Selain itu
juga perusahaan yang akan menekan keragaman dan kualitas pelayanan perusahaan
pada pelanggan. Salah satu bentuk persaingan non harga (diluar promosi dan
pembedaan produk) adalah kartu dagang atau kartu yang dapat ditukarkan dengan
uang atau hadiah-hadiah lain
G.
JENIS-JENIS
POTONGAN HARGA
Berikut ini akan dijelaskan
jenis-jenis potongan harga sebagai berikut:
a.
Potongan kuantitas (quality discount)
Potongan kuantitas adalah pengurangan dari harga tercatat yang ditawarkan oleh seorang penjual untuk menarik seorang pelanggan membeli dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya. Potongan berdasarkan pada jumlah pembelian dalam rupiah atau dalam unit. Potongan kuantitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu:
1) Potongan non kumulatif
2) Potongan kumulatif
Potongan kuantitas adalah pengurangan dari harga tercatat yang ditawarkan oleh seorang penjual untuk menarik seorang pelanggan membeli dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya. Potongan berdasarkan pada jumlah pembelian dalam rupiah atau dalam unit. Potongan kuantitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu:
1) Potongan non kumulatif
2) Potongan kumulatif
b. Potongan
dagang (trade discount)
Potongan dagang kadang-kadang disebut potongan fungsional, merupakan potongan dari harga tercatat (daftar harga) yang ditawarkan ke pembeli yang diharapkan akan mempunyai fungsi pemasaran. Contohnya produsen memberikan potongan kepada agen 15 % dengan syarat yang 10% diberikan kepada pengecer.
Potongan dagang kadang-kadang disebut potongan fungsional, merupakan potongan dari harga tercatat (daftar harga) yang ditawarkan ke pembeli yang diharapkan akan mempunyai fungsi pemasaran. Contohnya produsen memberikan potongan kepada agen 15 % dengan syarat yang 10% diberikan kepada pengecer.
c.
Potongan atau rabat kontan (cash discount)
Potongan kontan merupakan potongan harga yang diberikan kepada pembeli karena membayar kontan atau membayar dalam jadwal pelunasan yang telah ditetapkan sebelumnya. Potongan dihitung dari nilai sisa setelah dikurangi potongan kuantitas dan potongan dagang dari harga dasar.
Potongan kontan merupakan potongan harga yang diberikan kepada pembeli karena membayar kontan atau membayar dalam jadwal pelunasan yang telah ditetapkan sebelumnya. Potongan dihitung dari nilai sisa setelah dikurangi potongan kuantitas dan potongan dagang dari harga dasar.
ü Setiap potongan kontan mencakup tiga
unsur:
1) Potongan prosentase
2) Jadwal pembayaran untuk memperoleh potongan
3) Batas akhir waktu pelunasan hutang
Setiap industri biasanya menerapkan sendiri ketiga unsur tersebut diatas.
1) Potongan prosentase
2) Jadwal pembayaran untuk memperoleh potongan
3) Batas akhir waktu pelunasan hutang
Setiap industri biasanya menerapkan sendiri ketiga unsur tersebut diatas.
d. Potongan
musiman (seasonal discount)
Potongan musiman merupakan korting yang biasa dipakai oleh para produsen musiman seperti payung hujan. Misalnya pembeli yang memesan sejumlah payung hujan di musim panas akan menerima potongan sebesar 5%, 10% dan 15%. Pesanan-pesanan yang tiba diluar musim (off season) membantu pabrik tetap mendayagunakan produknya.
Potongan musiman merupakan korting yang biasa dipakai oleh para produsen musiman seperti payung hujan. Misalnya pembeli yang memesan sejumlah payung hujan di musim panas akan menerima potongan sebesar 5%, 10% dan 15%. Pesanan-pesanan yang tiba diluar musim (off season) membantu pabrik tetap mendayagunakan produknya.
e.
Pencatatan maju (forward discount)
Potongan tipe ini merupakan kombinasi antara potongan kontan dengan potongan musiman. Misalnya pabrik peralatan memancing mencari pesanan daripada grosir dan pengecer selama musim salju. Tetapi tagihan akan diberikan tanggal 1 April tahun depan, kondisinya 2/10 dan n/30. Pesanan yang diberikan dalam musim dingin ini (Desember/Januari) membantu effisiensi operasi produksi perusahaan. Tagihan yang diberi catatan maju (tagihan mundur) memungkinkan pengecer menunggu membayar hutangnya setelah musim salju tiba dan beberapa barang mulai laku.
Potongan tipe ini merupakan kombinasi antara potongan kontan dengan potongan musiman. Misalnya pabrik peralatan memancing mencari pesanan daripada grosir dan pengecer selama musim salju. Tetapi tagihan akan diberikan tanggal 1 April tahun depan, kondisinya 2/10 dan n/30. Pesanan yang diberikan dalam musim dingin ini (Desember/Januari) membantu effisiensi operasi produksi perusahaan. Tagihan yang diberi catatan maju (tagihan mundur) memungkinkan pengecer menunggu membayar hutangnya setelah musim salju tiba dan beberapa barang mulai laku.
f.
Kelonggaran promosi (promotional allowances)
Kelonggaran promosi merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual sebagai imbalan promosi yang dilakukan oleh pembeli. Misalnya pabrik alat-alat besar bangunan membeli beberapa jenis barang gratis untuk para penyalur sebagai imbalan pemeragaan produk eceran teratur. Atau pabrik akan menanggung 50% biaya iklan toko pengecer yang mengiklankan produknya.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa jenis potongan harga dapat digunakan sesuai dengan jenis perusahaan dalam memilih jenis potongan harga.
Kelonggaran promosi merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual sebagai imbalan promosi yang dilakukan oleh pembeli. Misalnya pabrik alat-alat besar bangunan membeli beberapa jenis barang gratis untuk para penyalur sebagai imbalan pemeragaan produk eceran teratur. Atau pabrik akan menanggung 50% biaya iklan toko pengecer yang mengiklankan produknya.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa jenis potongan harga dapat digunakan sesuai dengan jenis perusahaan dalam memilih jenis potongan harga.
H. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Penetapan Harga :
a.
Faktor Internal
1) Tujuan
Pemasaran Perusahaan ;
(makimalisasi
laba; mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan; meraih pangsa
pasar yang besar; menciptakan kepeminpinan dlm hal kualitas; mengatasi
persaingan; melaksanakan tanggung jawab sosial ; dll.)
2) Strategi Buran
Pemasaran
;
(harga perlu
dikoordinasikan dan saling menduung dengan bauran pemasaran lainya yaitu
pruduk, ditribusi dan promosi )
3) Biaya
;
(merupakan
faktor ygpaling menetukan harga minimalyang harus ditetapkan agar perusahaan
tdk mengalami kerugian, dalam hal ini biaya tetap dan variabel)
4) Organisasi ;
- Manajemen perlu
memutuskan siapa di dalam organisasi yang harus menetapkan harga.
- Setiap
perusahaan menangani masalahpenetapan harga menurut caranya masing-masing.
- Pada perusahaan
kecil, umumnya harga ditetapkan oleh manajemen puncak.
- Pada perusahaan
besar, seringkali masalah penetapan harga ditangani oleh devisi atau manajer
suatu lini produk.
- Dalam pasar
Industri, para wiraniaga diperkenankan untuk bernegoisasi dengan
pelanggannya guna menetapkan rentang (range) harga tertentu.
- Dalam
indutri penetapan harga merupakan faktor kunci (misalnya perusahaan
minyak, penerbangan luar angkasa) biasanya setiap perusahaan memiliki
departemen penetapan harga tersendiri yang bertanggung jawab kepada dept.
Pemasaran atau manajemen puncak.
- Pihak-pihak
lain yang mempunyai pengaruh terhadap penetapan harga adalah
manajer penjualan, manajer produksi, manajer keuangan dan akuntan
b.
Faktor Ekternal
1) Sifat Pasar dan
Permintaan; setiapperusahaan perlu memahami sifat dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk pasar persingan sempurna, persaingan monopolistik,
oligopoli, atau monopoli. Faktor lain yang tdk kalah pentingnya adalah
elastisitas permintaan
2) Persaingan;(
Porter )
Ada lima
kekuatan pokok yang berpengaruh dalam persaingan suatu industri :
a. Persaingan
dalam industri yang bersangkutan
b. Pruduk Substitusi
c. Pemasok
d. Pelanggan dan
e. Ancaman-ancaman
baru
v Informasi yg
dibutuhkan untuk menganalisis karakteritik persaingan yg dihadapi :
a. Jumlah
Perusahaan dalam Industri
b. Ukuran relatif
setiap anggota dalam Industri
c. Deferensiasi
Produk
d. Kemudahan untuk memasuki
industri yg bersangkutan
I.
PENYESUAIAN-PENYESUAIAN
KHUSUS TERHADAP HARGA
Penyesuaian khusus terhadap harga menurut daftar (list
price) terdiri atas :
a. Diskon
Diskon merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual
kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari pembeli yang
menyenagkan bagi penjual.
Dalam strategi pemasaran dikenal empat bentuk diskon,yaitu
1) diskon kuantitas,
2) diskon musiman,
3) diskon kas (cash discount),
4) trade discount.
b. Allowance
Seperti halnya dengan diskon, allowance merupakan
pengurangan dari harga menurut daftar (list price) kepada pembeli karena adanya aktivitas-aktivitas tertentu
yang dilakukan pembeli.
Ada tiga bentuk allowance yang b iasa digunakan ,yaitu:
1) Trade-in Allowance
2) Promotional Allowance
3) Product Allowance
c. Penyesuaian Geografis (Geographical
Adjustment)
1) Penyesuaian geografis merupakan
penyesuaian terhadap harga yang dilakukan oleh produsen atau juga wholesaler
sehubungan dengan biaya transportasi produk dari penjual ke pembeli.
2)
Biaya transportasi ini merupakan
salah satu unsur penting dalam biaya variable total, yang tentunya akan
menentukan harga akhir yang harus dibayar oleh pembeli
J.
STRATEGI
PENETAPAN HARGA
Secara
garis besar strategi penetapan harga dapat dikelompokan menjadi8 kelompok,
yaitu:
a. Strategi penetapan harga produk baru
b. Strategi penetapan harga produk yang
sudah mapan.
c. Strategi fleksibilitas harga
d. Strategi penetapan harga lini produk
e. Strategi leasing
f. Strategi bundling-pricing
g. Strategi kepemimpinan harga
h. Strategi penetapan harga untuk
membentuk pangsa pasar
K.
STRATEGI
PENETAPAN HARGA PRODUK BARU
- Harga yang ditetapkan atas suatu
produk baru harus dapat memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan pasar.
- Selain itu juga sedapat mungkin
mencegah timbulnya persaingan sengit .
-
Pada hakikatnya ada dua strategi
pokok dalam menetapkan harga produk baru, yaitu skimming pricing dan
penetration pricing.
Skimming Pricing
– Strategi ini merupakan strategi yang
menetapkan harga tinggi pada suatu produk baru.
– Biasanya strategi ini dilengkapi
dengan aktivitas promosi yang gencar.
– Produk-produk yang harganya
ditetapkan dengan strategi ini, diantaranya produk-produk yang berkaitan dengan
teknologi baru (seperti
stereo set, telpon selular, perangkat keras computer, dan lain-lain).
v Tujuan strategi ini pada dasarnya
adalah:
1. Untuk melayani para pelanggan yang
tidak terlalau sensitive terhadap harga, selagi persaingan belum ada.
2. Untuk menutup biaya-biaya promosi
dan riset dan pengembangan secepat mungkin melalui marjin yang besar.
3. Untuk membatasi permintaan hingga
tingkat yang tidak melampaui kapasitas produksi perusahaan.
4. Untuk berjaga-jaga terhadap
kemungkinan terjadinya kekeliruan dalam penetapan harga, karena akan jauh lebih
mudah untuk menurunkan harga awal yang dirasakan konsumen terlampau mahal
daripada menaikan harga awal yang terlalu murah agar dapat menutup semua biaya
yag dikeluarkan.
Skimming pricing cocok digunakan dalam situasi sebagai
berikut:
1. Produk baru memiliki karakteristik
unik/khas yang sangat diharapkan /disukai konsumen dan tidak ada atau hanya sedikit tersedia produk
substitusi.
2. Cukup banyak pelanggan yang bersedia
untuk membeli produk pada tingkat harga awal yang tinggi. Biasanya pelanggan
yang termasuk kategori ini adalah mereka yang berpenghasilan tinggi dan suka
mengikuti trend.
3. Sifat permintaan yang dihadapi tidak
pasti.
4. Perusahaan telah mengeluarkan dana
sangat besar untuk riset dan pengembangan suatu produk baru.
5. Harga awal yang tinggi tersebut
tidak akan menjadi daya tarik bagi masuknya para pesaing. Disamping itu ada
hambatan masuk bagi pesaing,misalnya berupa hak paten.
6. Pelanggan menginterpretasikan harga
tinggi sebagai indicator kualitas yang tinggi.
7. Bila produk baru yang dihasilkan
sangat inovatif sehingga pasar diperkirakan memerlukan waktu lama sebelum
memasuki tahap kedewasaan dalam PLC.
Penetration Pricing
Dalam strategi ini harga ditetapkan
relatif rendah pada tahap awal product life cycle (PLC).
Tujuannya adalah agar dapat meraih
pangsa pasar yang besar dan sekaligus menghalangi masuknya para pesaing.
Dengan harga yang rendah,maka
perusahaan dapat pula mengupayakan tercapainya skala ekonomis dan menurunya
biaya per unit.
Stategi ini memiliki perspektif
jangka panjang,dimana laba jangka pendek dikorbankan demi tercapainya keunggulan kompetitif
yang berkelanjutan.
Ada beberapa situasi yang sesuai
dengan penerapan stategi ini,di antaranya:
1. Produk yang dihasilkan memiliki daya
tarik tertentu bagi pasar.
2. Banyak segmen pasar yang sensitive
terhadap harag.
3. harga awal yang rendah mengurangi
minat pesaing untuk memasuki pasar.
4. Biaya produksi per unit dan biaya
pemasaran menurun drastic seiring dengan meningkatkan volume produksi.
Hasil yang dapt diperoleh dari
strategi ini adalah tingkat penjualan dan pangsa pasar yang tinggi, dan skala
ekonomis yang pada gilirannya menyebabkan biaya menjadi lebih rendah dan daya
saing perusahaan semakin besar.
Ada empat bentuk harga yang biasanya
dipergunakan dalam penetration pricing,yaitu:
1.
Harga
yang dikendalikan (restrained price)
Restrained price adalah harga yang ditetapkan dengan tujuan
untuk mempertahankan tingkat harga tertentu selama periode inflasi. Dalam hal
ini kondisi lingkungan menjadi dasar dalam menentukan tingkat harga yang
ditetapkan.
2.
Elimination
price
Elimination price merupakan harga
yang ditentukan pada suatu tingkat tertentu yang dapat menyebabkan
pesaing-pesaing tertentu (terutama yang kecil) keluar dari persaingan.
3.
Promotion
price
Promotion price adalah harga yang
ditetapkan rendah dengan kualitas yang relatif sama,dengan tujuan untuk
mempromosikan produk tertentu.
4.
Keep-out
Price
Keep out Price adalah harga yang
ditetapkan pada suatu tingkat tertentu sehingga dapat mencegah para pesaing
memasuki pasar.
L.
STRATEGI
PENETAPAN HARGA PRODUK YANG SUDAH MAPAN
Faktor yang menyebabkan suatu perusahaan harus selalu
meninjau kembali strategi penetapan harga produk-produknya yang sudah ada di
pasar
a. Adanya perubahan dalam lingkungan
pemasaran, misalnya ada pesaing besar yang menurunkan harganya.
b. Adanya pergeseran permintaan,
misalnya terjadi perubahan selera konsumen.
v Memiliki tiga alternative strategi,
yaitu :
1. Mempertahankan
Harga
Strategi
ini dilaksanakan dengan tujuan mempertahankan posisi dalam pasar
(misalnya pangsa pasar dan profitabilitas perusahaan) dan untuk meningkatkan
citra yang baik di masyarakat
Ada
beberapa persyaratan atau kondisi yang sesuai untuk menerapkan strategi ini,
diantaranya:
·
Pasar
yang dilayani perusahaan tidak terpengaruh oleh perubahan lingkungan.
·
Ada
ketidakpastian berkaitan dengan reaksi pelanggan dan pesaing terhadap perubahan
harga.
·
Image
masyarakt terhadap perusahaan dapat ditingkatkan dengan merespon permintaan
atau pendapat public untuk mempertahankan harga.
2. Menurunkan
Harga
v Ada tiga alasan yang mendorong suatu
perusahaan perlu menurunkan harga
Ø Strategi defensive, dimana perusahaan
memotong harga guna menghadapi persaingan yang semakin ketat
Ø Strategi ofensif, dimana perusahaan
berusaha memenangkan persaingan.
Hal ini erat hubungannya dengan
konsep kurva pengalaman yang intinya menyatakan bahwa biaya perusahaan akan
menurun dalam persentase terentu setiap kali pengalamannya berlipat ganda.
Hal ini mengandung makna bahwa
perusahaan yang memiliki pengalaman lebih banyak akan memiliki tingkat biaya
yang lebih rendah daripada perusahaan yang pengalamannya masih terbatas.
Biaya yang rendah ini akan sangat
menguntungkan. Karena dapat menghasilkan laba besar.
Ø Respon terhadap kebutuhan pelanggan
yang disebabkan oleh perubahan lingkungan.
Adanya inflasi yang berkelanjutan
dan tingkat harga yang semakin melonjak dapat menyebabkan konsumen menjadi
sensitive terhadap harga dan setiap alternative produk yang ada.
Mereka menjadi semakin selektif
dalam berbelanja.
Oleh karena itu, agar perusahaan bisa mendapatkan perhatian dari
konsumen, maka ia perlu menurunkan harganya
3.
Menaikan Harga
Menaikan harga produk biasanya
dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan profitabilitas dalam periode
inflasi, mengambil keuntungan dari diferensiasi produk ( baik diferensiasi riil
maupun diferensiasi persepsi) atau untuk melakukan segmentasi pasar yang
dilayani.
Dalam situasi inflasi, harga perlu
disesuaikan bila perusahaan bermaksud untuk mempertahankan profitabilitasnya.
Hal ini karena semua elemen dan
jenis biaya menjadi meningkat pada periode inflasi.
Secara konseptual, peningkatan harga
yang dilakukan harus ditetapkannya pada suatu tingkat yang memungkinkan
besarnya laba sama, baik sebelum maupun adanya inflasi.
M.
STRATEGI
FLEKSIBILITAS HARGA
Strategi
fleksibilitas harga terdiri atas dua macam strategi, yaitu
a. Strategi Satu Harga (Harga Tunggal)
- Dalam strategi ini, perusahaan
membebankan harga yang sama kepada setiap pelanggan yang membeli produk dengan
kualitas dan kuantitas yang sama pada kondisi yang sama pula (termasuk syarat
penjualannya sama).
- Strategi ini sering dijumpai pada
perusahaan-perusahaan yang melakukan distribusi massa dan penjualan massa.
- Tujuan strategi ini adalah untuk
mempermudah keputusan penetapan harga dan untuk mempertahankan goodwill serta
menjalin hubungan baik dengan semua pelanggan (karena tak satupun pelanggan
yang mendapatkan harga khusus atau dianggap lebih penting daripada pelanggan
yang lain).
Ada
beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi guna melaksanakan strategi ini,
–
Perlu adanya analisis secara
terperinci mengenai posisi perusahaan dan struktur biaya bila dibandingkan
dengan industri secara keseluruhan
–
Dibutuhkan informasi yang berkaitan
dengan variabilitas harga pada penawaran harga yang sama kepada setiap orang
–
Perlu pemahaman atas skala ekonomis
yang tersedia bagi perusahaan
–
Dibutuhkan informasi tentang harga
kompetitif,yaitu harga yang sanggup dibayar oleh pelanggan
Hasil
yang diharapkan dari implementasi strategi satu harga meliputi empat aspek
pokok,yaitu:
1)
Biaya penjualan dan biaya
administrasi yang semakin menurun.
2)
Marjin laba yang konstan .
3)
Image pelanggan yang baik terhadap
perusahaan.
4)
Pertumbuhan pasar yang stabil.
b. Strategi Penetapan Harga Fleksibel.
Fleksibilitas dapat dilakukan dengan jalan menetapkan harga
yang berbeda pada pasar yang berlainan atas dasar lokasi geografis, waktu
penyampaian/pengiriman, atau kompleksitas produk yang di harapkan
1. Strategi penetapan harga fleksibel
merupakan strategi pembebanan harga yang berbeda kepada pelanggan yang berbeda
untuk produk yang kualitasnya sama.
2. Tujuan strategi ini adalah untuk
memaksimalkan laba jangka panjang dan memberikan keluwesan dengan jalan
memungkinkan setiap pentesuaian,baik kebawah maupun k eats terhadap harga.
3. Penyesuaian harga sangat tergantung
pada tingkat persaingan yang dihadapi (harga pesaing),hubungan dengan
pelanggan,dan seberapa besar pelanggan bersedia membayar untuk produk
tersebut (termasuk didalamnya kemampuan tawar-menawar pelanggan).
4. Penetapan harga fleksibel banyak
diterapkan dalam kalangan saluran distribusi,penjualan langsung produk-produk
industrial,dan pada penjualan eceran produk-produk yang mahal,serta dalam
pemasaran homogeneous shopping products (McCarthy dan Perreault,1995).
Strategi
ini mengandung beberapa kelemahan :
1. Pertama, seorang pelanggan yang
mengetahui bahwa ada orang lain yang menikmati harga lebih murah untuk
mendapatkan bauran pemasaran yang sama akan merasa tidak puas.
2. Kedua, apabila konsumen mengetahui
bahwa tawar-menawar dapat menguntungkan mereka, maka mereka akan meluangkan
lebih bnyak waktu guna menawar harga barang. Hal ini bisa mempengaruhi biaya
penjualan.
3. Ketiga adalah sebagian besar
wiraniaga akan terbiasa melakukan penurunan harga. Ini mengurangi peranan harga
sebagai alat persaingan dan menyebabkan turunnya harga.
v Persyaratan yang perlu diperhatikan
dalam strategi penetapan harga fleksibel :
1. Perusahaan memiliki segala informasi
yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan strategi penetapan harga fleksibel.
Biasanya strategi ini di implementasikan dengan salah satu dari empat cara
berikut:
– Berdasarkan pasar (segmen pasar
maupun lokasi geografis),
– Berdasarkan produk,
– BErdasarka timing,
– Berdasarkan teknologi.
2. Perlu dilakukan analisis
customer-value terhadap produk
3. Penekanan lebih besar pda marjin
laba daripada volume penjualan
4. Pemantauan terhadap reaksi
persaingan terhadap perubahan harga dimasa lampau.
Ø Hasil yang diharapkan dari
implementasi strategi ini adalah :
1.
Peningkatan laba jangka pendek
2. Peningkatan penjualan yang mengarah
pada peningkatan pangsa pasar perusahaan.
N.
STRATEGI
PENETAPAN HARGA LINI PRODUK
a. Strategi ini dilakukan dengan jalan menetapkan
harga suatu lini produk berdasarkan hubungan dan dampak setiap produk terhadap
lininya, apakah kompetitif atau komplementer
b. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan
laba dari keseluruhan lini produk.
Persyaratan yang perlu dipertimbangkan:
a. Untuk produk yang ada dalam lini,
strategi akan disusun berdasarkan kontribusi produk terhadap pangsa rata-rata
dari biaya overhead dan biaya langsung.
b. Untuk produk baru, analisis pasar/produk akan menentukan
apakah produk tersebut akan menguntungkan. Penetapan harga kemudian menjadi
fungsi dari biaya sasaran laba,pengalaman,dan persaingan eksternal.
Hasil
yang diharapkan meliputi:
1.
Skedul penetapan harga seimbang dan
konsisten diantara berbagai lini produk.
2.
Laba jangka panjang yang semakin
besar.
3. Kinerja lini secara keseluruhan yang
lebih baik.
O.
STRATEGI
LEASING
a. Leasing merupakan suatu kontrak
persetujuan antara pemilik aktiva (lessor) dan pihak kedua yang memanfaatkan
aktiva tersebut (lessee) untuk jangka waktu tertentu dengan tingkat return
tertentu.
b. Dewasa ini objek leasing meliputi :
·
Apartemen
·
Kantor,
rumah
·
Mobil
·
Komputer
·
Mesin
Fotokopi
·
Bahkan
Bangunan Pabrik
c. Kontrak leasing umumnya memberikan
hak kepada lessee untuk memperbaharui kontrak sewa untuk periode mendatang atu
bahkan memberikan hak untuk membeli aktiva tersebut
d. Pihak lessee mendapatkan
manfaat,yaitu dapat menggunakan suatu aktiva tanpa harus membeli sendiri
e. Sedangkan pihak lessor mendapatkan
uang sewa secara periodic. Kadangkala lessor juga mensyaratkan pembayaran biaya
pemeliharaan,pajak,dan asuransi.
v Ada dua jenis leasing yang sering dijumpai,yaitu
:
Operating lease,yaitu leasing yang jangka waktunya dapat
dibatalkan dan biasanya jangka waktu tersebut lebih singkat daripada umur
ekonomis aktiva yang dileasingkan.
• Contohnya mesin
fotokopi,computer,word prosesor,mobil.
Financial lease,yaitu leasing dalam jangka panjang dan
tidak dapat dibatalkan dalam financial lease, lessee diwajibkan untuk membayar
sewa sampai akhir umur ekonomis aktiva.
Financial lease terdiri atas 3 bentuk,yaitu:
1. Sale and leaseback
• Dalam perjanjian sale and leaseback,
perusahaan menjual aktivanya kepada pihaklain,kemudian pihak pembeli tersebut
mrnyewakan kembali aktiva tersebut kepada perusahaan.
• Manfaat bentuk leasing ini
adalah bahwa perusahaan memperoleh penjualan aktiva tersebut (tambahan dana
yang dapat digunakan untuk keperluan lain) dan masih dapat menggunakan aktiva
tersebut selama jangka waktu perjanjian leasing meskipun kepemilikannya telah
beralih kepada pihak lain.
2. Direct Leasing
• Dalam direct leasing, lessee
menggunakan aktiva yang memang tidak memiliki sebelumnya.
• Contoh perusahaan yang menerapkan
strategi ini adalah IBM dan Xerox yang menyewakan komputer dan mesin fotokopi.
3. Leveraged Leasing
• Leverage leasing merupakan bentuk
leasing untuk pembiayaan aktiva yang memerlukan pengeluaran investasi yang
besar.
• Dalam leveraged leasing ada tiga
pihak yang terlibat,yaitu lessee, lessor, dan pemberi pinjaman.
• Pihak lessor memperoleh aktiva
dengan cara berhutang kepada pihak ketiga (pemberi pinjaman).
v Tujuan dari strategi leasing ini
adalah:
1. Untuk meningkatkan pertumbuhan pasar
dengan menarik pelanggan yang tidak mampu membeli sekaligus.
2. Untuk merealisasikan laba jangka
panjang yang lebih besar,karena biaya produksi diamortisasikan secara penuh.
Biaya sewa mwrupakan laba.
3. Untuk meningkatkan aliran kas.
4. Agar dapat memperoleh aliran laba
yang stabil.
5. Untuk menghindari risiko kerugian
akibat keusangan teknologi.
v Menerapkan strategi leasing dengan
suksesnya beberapa persyaratan. diantaranya adalah:
1. Perusahaan memiliki sumber keuangan
yang dibutuhkan untuk melanjutkan produksi yang selanjutnya akan digunakan
untuk penjualan ataun lease dimasa yang akan dating.
2. Perusahaan melakukan perhitungan
yang memadai ats tingkat lease dan periode minimum leasing sehingga jumlah
total yan dibayarkan oleh lessee lebih kecil daripada bila dibayar secara
angsuran bulanan padapenjualan sekaligus.
3. Lessor memiliki kemampuan untuk
menyamai perkembangan produk yang mungkin dapat membuat produk leassor usang.
v Melalui implementasi strategi ini
diharapkan akan diperoleh hasil yang berupa:
1.
Peningkatan pangsa pasar karena
pelanggan perusahaan juga mencakup mereka yang tidak jadi membeli produk.
2.
Penghasilan yang konsisten selama
bertahun-tahun.
3.
Aliran kas yang lebih besar karena
biaya pajak penghasilan yang lebih rendah dari penghapusan depresiasi.
Peningkatan penjualan bila pelanggan melaksanakan hak opsi
pembelian mereka.
BAB III
KESIMPULAN
Produk merupakan segala sesuatu yang
dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari dan dibeli,
digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan
pasar yang bersangkutan, produk yang ditawarkan tersebut meliputi barang,
fisik, jasa, orang atau pribadi, tempat, organisasi dan ide sebagai pengaruh
dari Consumer Adoption Process, produk memiliki siklus hidup yang pada umumnya
terdiri dari tahap perkenalan, pertumbuhan, pendewasaan, dan penurunan.
Kaitannya dengan produk pasti tidak
terlapas dari masalah harga, agar dapat sukses dalam memasarkan suatu barang
atau jasa, setiap perusahaan harus menetapkan harga secara tepat, ada beberapa
metode penetapan harga yaitu : pendekatan permintaan untuk menetapkan
harga, pendekatan biaya untuk menetapkan harga dan diskon selain itu pula
terdapat beberapa metode penetapan harga khusus untuk produk baru yaitu :
Penetracing Pricing dan Skimming Pricing
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa kebijakan atau penetapan harga yang ditetapkan oleh
perusahaan, biasanya berlaku untuk sementara waktu saja selama masa
menguntungkan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus mengikuti
perkembangan harga dan situasi pasar. Unsur harga tersebut dalam waktu tertentu
dirubah atau tidak. Apabila selama batas waktu tertentu keadaan menguntungkan,
maka kebijakan harga harga tersebut ditinjau kembali apabila situasi dan
kondisi perusahaan mengalami perubahan, sehingga tidak mungkin lagi untuk
dipertahankan agar produsen maupun konsumen tidak saling dirugikan.
DAFTAR PUSTAKA
Philip Kotler, 2002, Manajemen
Pemasaran, Edisi Milenium, Jilid 1 dan 2, Penerbit Prehallindo, Jakarta
Fandy Tjiptono. 2001. Manajemen Jasa. Yogyakarta
:Andy Offset.
Karwowski, W and Marras, S.W. 1999. The Occupational
Ergonomics Handbook. New York : CRC Press LLC
Nitisemito, Alex S, 1991. Manajemen Personalia –
Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Ghalia
Pappas, James L. dan Hirschey, Mark. 1995. Ekonomi
Manajerial.Jakarta : PT. Binarupa Aksara Indonesia.
Stanton, William J. 1984. Prinsip Pemasaran.
Jakarta : Penerbit Erlangga
Swasta, Basu DH dan Irawan. M.B.A. 1986. Manajemen
Pemasaran Modern. Yogyakarta: Edisi ke dua. Penerbit Liberty